Langsung ke konten utama

Memahami Spesifikasi Genset Diesel Rumah Sakit

Resolusi Tahun Ini Tidak Tercapai? Ini Yang Harus Kamu Lakukan

Solusi Resolusi Tidak Tercapai
Solusi Resolusi Tidak Tercapai | Pixabay 


Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2022. Banyak orang yang menyambut bahagia kedatangan tahun 2023, dan bangga meninggalkan tahun ini karena berhasil mewujudkan semua resolusi yang telah disusunnya. 

Namun ada juga yang kecewa karena resolusi tahun ini tidak tercapai sesuai yang diharapkan. Tidak masalah, kecewa boleh-boleh saja dan ini manusiawi. Tapi ingat, jangan terlalu berlebihan, apalagi mencap diri gagal total. 

Agar tidak terpuruk dan meninggalkan tahun ini dengan penuh kekecewaan, berikut 5 tips agar kamu tidak terlalu kecewa karena gagal mewujudkan resolusi di tahun 2022.


  1. Evaluasi

Lakukan evaluasi untuk melihat penyebab utama kegagalan yang harus kamu terima. Apakah kegagalan tersebut karena kamu yang terlalu bersantai, atau murni karena ketidakmampuan kamu untuk mewujudkannya. 

Kamu juga harus melihat apakah kegagalan tersebut disebabkan karena resolusi yang tidak rasional, dan lainnya. Semuanya harus dilihat kembali dengan jujur agar kamu bisa mencari titik lemah yang harus diperbaiki. 


  1. Terima Rasa Kecewa

Kecewa itu wajar. Justru sebaliknya, kamu harus bertanya-tanya jika tidak kecewa karena ada resolusi di tahun 2022 yang gagal diwujudkan. Tidak kecewa bisa jadi tanda kamu tidak serius dengan resolusimu. 

Kamu juga boleh mengekspresikan atau bahkan menunjukkan rasa kecewa tersebut kepada orang-orang terdekatmu. Tapi ingat, jangan berlebihan dan jangan menyangkal rasa kecewa tersebut karena akan membuat kamu makin sulit bangkit. 


  1. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri

Gagal memang menyakitkan, tapi bukan berarti kamu gagal total bukan. Pasti ada beberapa hal yang kamu capai, bahkan ada banyak hal baik yang kamu capai, padahal semua itu tidak kamu masukkan ke dalam resolusi. 

Apresiasi hal tersebut, dan anggap itu sebagai pengganti resolusi yang gagal. Selain itu, menurut Berkeley Wellbeing Intuitive, jangan pernah membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain karena akan merusak kepercayaan dirimu.


  1. Segera Bangkit

Perasaan sedih dan kecewa yang terlalu didalami bisa membuat kamu jadi lemah dan kehilangan motivasi. Makanya, segera bangkit dan susun kembali rencana untuk mewujudkan resolusi yang belum tercapai di tahun 2022. 

Kamu juga bisa memasukkan resolusi tersebut untuk tahun 2023, atau bahkan kalau memungkinkan kamu bisa memasukkannya ke dalam rencana jangka pendek. Dengan cara ini resolusi tersebut bisa dicapai dalam waktu dekat.


  1. Susun Kembali Rencana Baru

Segera tinggalkan kegagalan dan susun kembali rencanamu untuk tahun 2023. Seperti disebutkan di atas, kamu bisa memasukkan resolusi yang gagal di tahun 2022, untuk jadi bagian resolusi di tahun 2023 nanti. 

Tapi ingat, tetap hitung dengan cermat dan pastikan semuanya possible untuk diwujudkan. Jika tidak, kamu bisa kembali mengalami kegagalan, sampai akhirnya lelah dengan diri sendiri dan malah membuatmu makin terpuruk.

Bagaimana, kamu sudah siap dengan resolusi tahun 2023? Yuk segera susun dan yakinkan diri kamu bisa menyelesaikannya dengan baik. Semoga beruntung.


Postingan populer dari blog ini

Dikepung Polusi? Lakukan 5 Kebiasaan Baik ini Agar Paru-Parumu Sehat

Polusi Udara  | Pixabay Bukan rahasia lagi jika di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Jakarta dan sekitarnya, sedang mengalami fenomena penurunan kualitas udara. Berbagai solusi pun coba diterapkan, namun faktanya itu tidak benar-benar efektif mengatasinya. Asap kendaraan bermotor, sisa pembakaran dan limbah industri, dan aktivitas manusia lainnya telah menciptakan lingkungan yang semakin tercemar, dan ini jelas bisa berdampak panjang pada kesehatan paru-parumu dan kualitas hidupmu.  Sambil menunggu perbaikan kualitas udara di kotamu, mending kita simak yuk beberapa kebiasaan baik agar paru-paru kamu tetap sehat. Gunakan Masker  Saat kamu berada di luar rumah dan terpapar polusi udara, seperti asap kendaraan atau asap pabrik, gunakan masker udara khusus yang dirancang untuk menyaring partikel kecil yang bisa masuk ke paru-parumu dan merusaknya.  Masker udara ini dapat membantu kamu menghirup udara yang lebih bersih, menjaga kesehatan paru-parumu, dan mengurangi ...

Viral Istilah Toxic Leadership. Memang Apa Sih Bahayanya?

Toxic Leadership | Pixabay Saat ini dunia sosial media sedang dihebohkan dengan istilah toxic leadership . Istilah ini semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan di berbagai media sosial, dan umumnya dibahas oleh kebanyakan para pekerja.  Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan toxic leadership itu dan mengapa istilah ini begitu viral? Lebih penting lagi, apa bahayanya bagi individu dan organisasi? Mari kita membahasnya secara mendalam. Mengenali Toxic Leadership Sesuai dengan namanya, toxic leadership merujuk pada gaya kepemimpinan seseorang yang dianggap merugikan, dan destruktif, yang cenderung menimbulkan kerusakan (fisik maupun mental) dalam lingkungan kerja.  Hal ini dapat mencakup perilaku yang mengintimidasi, memicu ketidakamanan (seperti penghinaan, pemaksaan), menyalahgunakan kekuasaan, dan bahkan mengarah pada perlakuan diskriminatif terhadap anggota tim atau bawahan. Ciri-ciri dari seorang pemimpin toksik diantaranya:  Sangat manipulatif,  Cen...

5 Indikator Ini Bukti Kalau Kondisi Finansial Kamu Sehat

Indikator Kesehatan Finansial| Pixabay Kesehatan finansial merupakan salah satu aspek penting yang berdampak besar pada kualitas hidupmu secara keseluruhan, sekaligus lebih mendekatkan kamu pada tujuan utama keuangan, yakni financial freedom .  Kondisi finansial yang sehat juga dapat memberikan kestabilan, keamanan dan kebebasan finansial yang memungkinkan kamu mencapai tujuan hidup dengan lebih baik, bukan hanya untuk dirimu, tapi juga untuk orang-orang disekitar kamu.  Dalam artikel ini kita akan membahas 5 indikator yang menjadi bukti jika kondisi finansial kamu dalam keadaan sehat. Pendapatan yang Stabil  Indikator pertama yang menunjukkan kesehatan finansialmu adalah memiliki pendapatan yang stabil, minimalnya cukup untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, terutama sandang, pangan dan papan.  Jika penghasilan kamu sudah bisa menutupi pengeluaran rutin, tanpa harus bergantung pada utang atau bantuan finansial tambahan lainnya dari pihak ketiga, maka kamu bisa...